Kerajaan Kutai


Kerajaan Kutai adalah salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia. Letaknya sangat strategis yaitu berada di pinggiran Sungai Mahakam, tepatnya terletak di Kecamatan Muarakaman, Kutai, Kalimantan Timur. Karena letaknya yang strategis ini lah membuat kerajaan Kutai menjadi sentra lalu lintas perdagangan internasional. Banyak kerajaan besar seperti India dan Cina memanfaatkannya untuk saling meraup keuntungan dengan berdagang di wilayah ini.

Dampak lain dari letak yang strategis dan jadi jalur perdagangan internasional, membuat kerajaan ini menjadi berkembang dengan sangat pesat. Dari sini mulai lahirlah budaya dan kebiasaan baru dari rakyat Kutai karena terciptanya akulturasi dari para pedagang luar negeri membawa kerajaan ini ke masa kejayaan atau keemasan. 

Malahan para sejarawan juga menganggap jika Mulawarman merupakan pendiri dari Kerajaan Kutai karena berhasil membawa kepada stabilitas sosial, politik dan ekonomi.

1) Raja Kudungga 

Sebelumnya pada masa itu masyarakat Kutai menganut sistem kepala suku. Tetapi ketika budaya Hindu mulai masuk dan dianut oleh masyarakatnya berlahan sistem pemerintahan berubah menjadi sistem kerajaan dimana yang memerintah bukan lagi disebut kepala suku, tetapi seorang raja.

Dari sinilah awalnya Kudungga yang adalah kepala suku kemudian merubah sistem pemerintahannya menjadi kerjaaan dan untuk selanjutnya seluruh pengganti raja selanjutnya akan dipilih secara turun temurun dari kalangan keluarganya.

Dari sinilah awalnya Kudungga yang adalah kepala suku kemudian merubah sistem pemerintahannya menjadi kerjaaan dan untuk selanjutnya seluruh pengganti raja selanjutnya akan dipilih secara turun temurun dari kalangan keluarganya.

Maka setelah raja Kudungga wafat lalu digantikan oleh anaknya yang bernama Raja Asmawarman. 

2) Raja Asmawarman 

Raja Aswawarman dikatakan seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari). Berdasarkan dari Prasasti Yupa yang merupakan peninggalan Kerajaan Kutai, disitu di sebutkan bahwa Raja Asmawarman telah melakukan perluasan wilayah kerajaan. Perluasan wilayah ini dilakukan dengan hal yang sangat unik, pasalnya Raja Asmawarman membuat suatu kegiatan yang didalamnya dilakukan pelepasan kuda. 

Dari kuda yang dilepaskan itu jejak dari kaki kuda akan dijadikan sebagai batas wilayah kerajaan. Kegiatan ini pada masanya dikenal dengan nama Upacara Asmawedha.

3) Raja Mulawarman Raja Mulawarman adalah pemeluk agama HinduSiwa yang setia. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara. la juga dikenal sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum brahmana dan rakyat

Raja Mulawarman juga melakukan ritual Vratyastoma, yaitu ritual pembersihan diri untuk memasuki kasta Ksatria. Dalam masa pemerintahan Mulawarman, raja ini sangat banyak memberikan kontribusinya pada kerajaan, pada masa raja Mulawarman inilah Kutai mengalami jaman keemasan. Kehidupan ekonomi pun mengalami perkembangan. Kutai terletak di tepi sungai, sehingga masyarakatnya melakukan pertanian.

Selain itu, masyarakatnya banyak melakukan perdagangan, dan bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang dengan luar. Jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan sampai di Cina. Dalam pelayarannya diperikirakan para pedagang itu singgah terlebih dahulu di Kutai, membuat kerajaan ini semakin ramai dan rakyat hidup makmur.

Di salah sastu 7 Yupa dari peninggalan Kerajaan Kutai, di ceritakan "Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara". Berikut adalah Raja-raja yang memerintah Kerajaan Kutai:

1) Maharaja Kudungga 2) Maharaja Asmawarman 3) Maharaja Mulawarman 4) Maharaja Sri Aswawarman 5) Maharaja Marawijaya Warman 6) Maharaja Gajayana Warman 7) Maharaja Tungga Warman 8) Maharaja Jayanaga Warman 9) Maharaja Nalasinga Warman 10) Maharaja Nala Parana Tungga 11) Maharaja Gadingga Warman Dewa 12) Maharaja Indra Warman Dewa 13) Maharaja Sangga Warman Dewa 14) Maharaja Singa Wargala Warman Dewa 15) Maharaja Candrawarman 16) Maharaja Prabu Mula Tungga Dewa 17) Maharaja Nala Indra Dewa 18) Maharaja Indra Mulya Warman Dewa. 19) Maharaja Sri Langka Dewa 20) Maharaja Guna Parana Dewa 21) Maharaja Wijaya Warman 22) Maharaja Indra Mulya 23) Maharaja Sri Aji Dewa 24) Maharaja Mulia Putera 25) Maharaja Nala Pandita 26) Maharaja Indra Paruta Dewa 27) Maharaja Dharma Setia.

PENINGGALAN-PENINGGALAN KERAJAAN KUTAI

PRASASTI YUPA

Prasasti Yupa adalah warisan Kerajaan Kutai tertua sebagai bukti Pemerintah Hindu di Kalimantan yang didalamnya berisi fakta mengenai silsilah Kerajaan Kutai.

Salah satu perjalanan raja pertama yaitu Raja Kudungga. Raja Kudungga memiliki anak bernama Asmawarman, dan dia mempunyai 3 anak, yang dikenal dengan sebutan "tiga api suci". Pada Yupa terdapat satu tulisan bahwa dalam pemerintahan Asmawarman, ada satu proses upacara Aswamedha yang berisikan pelepasan kuda sebagai bentuk penentu batas wilayah Kerajaan.

Dari ketiga anak Aswawarman ada seorang yang memiliki sifat sangat tegas, kuat, sabar dan mahar untuk raja dipersembahkan kurban Bahu Suwarnakam, dialah Raja Mulawarman.

Prasasti ini ditulis dalam bentuk puisi anustub dan diperkirakan sudah berusia 400 Masehi. Sayangnya, dari tujuh buah Prasasti Yupa hanya sebagian saja yang berhasil diterjemahkan dan tidak mencantumkan tanggal pembuatannya, hingga sekarang masih menjadi perkiraan mengenai tanggal pembuatan batu-batu ini. Diperkirakan pada zaman itu batu ini digunakan untuk mengikat korban manusia atau hewan untuk dipersembahkan oleh para dewa. Di sekeliling batu ada ukiran yang ditulis dalam huruf Sansekerta atau Pallawa.

Posting Komentar

0 Komentar